Renungan
Minggu XXV
Tanggal
19 September 2010
Bapak/ibu/saudara/I umat beriman yang terkasih dalam
Kristus!
Kisah Amos dalam bacaan pertama bukan sekedar suatu berita tentang gerakan sosial yang membela keadilan bagi orang-orang yang tertindas. Walaupun berita kitab Amos menyampaikan perlawanan kepada ketidakadilan dan penindasan kepada sesama yang lemah. Namun kitab Amos tetap menempatkan Allah sebagai pemilik kehidupan dan pencipta seluruh umat manusia. Karena itu kitab Amos menyebut nama Allah sebagai Allah semesta alam (Am. 5:27). Prinsip keadilan dan kebenaran yang seharusnya terjadi dalam kehidupan ini ditempatkan dalam kerangka Allah semesta alam, sehingga seluruh umat manusia tanpa terkecuali adalah milik Allah. Apabila Allah adalah pemilik kehidupan, maka Allah menentang setiap umat yang menindas sesamanya. Dlm Am. 8:4 diawali dengan perkataan “Dengarlah ini”. Kata ini ditempatkan sebagai suatu teguran Allah kepada umat yang mengaku percaya dan beriman kepada Allah yang esa, namun mereka menginjak-injak orang miskin dan membinasakan orang sengsara. Jelas sikap ambigu atau mendua bukanlah sikap yang berkenan kepada Allah. Kita tidak mungkin mempermuliakan Allah dengan menyengsarakan orang lain baik secara batin maupun secara fisik. Selain itu dalam Am. 8:7 yaitu: “TUHAN telah bersumpah demi kebanggaan Yakub: "Bahwasanya Aku tidak akan melupakan untuk seterusnya segala perbuatan mereka!” Artinya Allah tidak akan mengampuni setiap kesalahan dan kejahatan orang-orang yang telah menindas dan menghisap sesamanya yang lebih lemah. Kata “melupakan” merupakan kebalikkan dari sifat Allah yang “mengingat”. Bandingkan perkataan Allah di Yes. 43:25 yang mau untuk “mengingat” kembali, yaitu: “Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu”. Selama Allah masih mau “mengingat” maka masih tersedia anugerah pengampunanNya. Allah yang mau “mengingat” adalah manifestasi dari kasih Allah yang melampaui seluruh pemikiran dan kemampuan manusiawi, walaupun saat itu umat sedang berdosa dan meninggalkan Allah. Tetapi ketika Allah mengambil keputusan dan bersumpah bahwa Dia tidak akan melupakan, berarti dosa dan kejahatan mereka telah begitu besar sehingga tidak akan tersedia pengampunan.
Bapak/ibu/saudara/I umat beriman yang terkasih dalam
Kristus!
Nasihat
rasul
Paulus dalam bacaan II yaitu I Tim. 2:1-8 pada prinsipnya mengingatkan umat untuk tidak
salah menempatkan doa syafaat pada kepentingan
pribadi tetapi doa syafaat seharusnya ditujukan untuk kesejahteraan setiap umat
sehingga melahirkan suatu transformasi sosial. Yang mana dalam proses
transformasi sosial tersebut setiap umat semakin mampu hidup sejahtera, aman,
bahagia, memiliki jaminan keadilan, hukum ditegakkan dan relasi antar umat
harmonis. Tentunya dengan kondisi demikian nama Allah akan dipermuliakan.
Spiritualitas doa yang demikianlah yang disebut oleh rasul Paulus sebagai: “Itulah yang baik dan yang berkenan
kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang
diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (I Tim.
2:3-4). Dasar
teologisnya adalah karena setiap umat dan pemerintah pada hakikatnya telah
ditebus oleh Kristus. Sehingga doa umat percaya seharusnya menjadi sikap
spiritualitas yang terus-menerus menghadirkan karakter Kristus dalam setiap
aspek kehidupan. Karena Kristus adalah Tuhan, penguasa, dan satu-satunya sang
pengantara yang telah menyerahkan diriNya sebagai tebusan bagi setiap manusia
(I Tim. 2:5-6).
Bapak/ibu/saudara/I umat beriman yang terkasih dalam
Kristus!
Tindakan
untuk mengasihi dan berlaku setia kepada mereka yang tidak mengasihi dan tidak
setia kepada kita membutuhkan enersi mental dan spiritutalitas yang
tinggi. Untuk itu pertanyaan yang lebih mendasar lagi adalah sejauh mana
kita telah memiliki enersi mental dan spiritualitas tersebut? Untuk maksud
itulah Tuhan Yesus memberikan pengajaran dengan perumpamaan di Luk. 16:1-13
tentang bendahara yang tidak jujur. Hal yang aneh dalam perumpamaan Tuhan Yesus
tersebut adalah sepertinya Tuhan Yesus memberi pujian kepada bendahara yang
tidak jujur. Namun kita tidak boleh terlalu cepat menarik kesimpulan bahwa
Tuhan Yesus menghargai dan memuji tindakan yang tidak jujur dari bendahara
tersebut. Kita perlu memahami budaya zaman dahulu perihal pengelolaan uang yang
dipercayakan kepada seorang bendahara. Si pemilik modal hanya menyediakan
suatu dana agar manager yang diangkatnya tersebut mampu mengelola uang tersebut
sehingga usaha tersebut menghasilkan keuntungan. Karena itu manager yang disebutnya
sebagai bendahara yang menentukan tingkat besarnya suatu bunga. Sehingga risiko
kerugian harus ditanggung penuh oleh bendahara; tetapi kalau dia berhasil, maka
dia akan memperoleh keuntungan lebih. Dalam perumpamaan tersebut akhirnya
diketahui oleh si pemilik uang bahwa bendaharanya telah menghambur-hamburkan
uang. Bendahara tersebut segera dipanggil oleh tuannya untuk
mempertanggungjawabkan seluruh keuangan yang telah dikelolanya. Apa yang
kemudian dilakukan oleh bendahara tersebut? Di Luk. 16:5-7, bendahara tersebut
mengurangi jumlah hutang dari para krediturnya. Namun dengan mengurangi jumlah
hutang dari para krediturnya, berarti pula sang bendahara kehilangan haknya
untuk memperoleh keuntungan yang seharusnya. Jadi sebenarnya dia memotong hak
keuntungan untuk dirinya dari pemotongan jumlah hutang dari para krediturnya.
Sehingga pada akhirnya sang bendahara tersebut mampu mempertanggungjawabkan
seluruh keuangan yang telah dipercayakan kepadanya. Sebab uang yang menjadi hak
dari tuannya itu tidak berkurang sedikitpun, sehingga dia tidak jadi dipecat
dari jabatannya sebagai seorang manajer.
Dari
perumpamaan Tuhan Yesus ini, kita dapat belajar bagaimana sang bendahara
memikirkan masa depannya secara cerdik. Walaupun dia pernah melakukan kesalahan
besar, namun dia segera memperbaiki diri dengan memotong apa yang menjadi hak
keuntungan pribadinya. Secara finansial sang bendahara itu tidak memperoleh
banyak keuntungan dari hak yang seharusnya dia terima, tetapi secara moril dia
mampu mempertanggungjawabkan sikapnya. Demikian pula dengan makna kesetiaan
yang tanpa syarat. Seorang yang mampu tetap setia kepada orang yang tidak setia
berarti dia bersedia mengurangi atau memotong apa yang menjadi haknya. Tetapi
dengan bersikap demikian, sesungguhnya dia telah menyelamatkan dirinya dari
orang yang tidak setia tersebut. Jadi tekanan utama dari makna perumpamaan
bendahara di Luk. 16 bukanlah soal ketidakjujurannya, tetapi kerelaan dia untuk
memotong apa yang menjadi hak keuntungannya. Ketidakjujuran bendahara tersebut
terjadi ketika dia melakukan kesalahan dengan cara menghambur-hamburkan uang
yang bukan miliknya, tetapi dia segera berbenah diri dan mampu
mempertanggungjawabkan seluruh keuangan yang dikelolanya, sehingga dia akhirnya
dapat menyelamatkan masa depan dan kariernya.
Melihat
refleksi atas bacaan-bacaan hari ini kita
pun bertanya,dan berusaha memposisikan diri kita masing-masing “Apakah kita
termasuk golongan para pedagang yang mengambil keuntungan dari kebutuhan orang
lain, dengan menimbun barang-barang untuk menjualnya kembali dengan harga yang
melebihi ukuran kewajaran?(bdk Bacaan Pertama) Jika demikian, kita adalah
seorang penjahat yang tidak dapat membedakan apakah rumahmu di istana atau di
penjara. Ataukah kita termasuk golongan orang jujur yang bisa bertani dan
menganyam kemudian menukarkan hasil-hasilnya yang menjadi penengah antara
pembeli dan penjual dan melakukan keadilan yang menguntungkan dirinya dan orang
lain? Jika demikian kita adalah orang-orang yang benar, tidak peduli apakah
kita seorang yang terpuji atau terkutuk. Apakah kita adalah termasuk pemegang
kekuasaan yang berkata pada dirinya sendiri; aku akan memanfaatkan jabatan
untuk keuntungan pribadiku sendiri?(Bdk Bacaan Injil) Jika demikian, maka kita
tidak lebih dari duri yang hidup dalam daging orang lain. Ataukah kita adalah
termasuk pejuang patriot yang setia yang
membisiki telinganya sendiri, aku mencintai negaraku dan akan mengabdi
kepadanya. Aku selalu berusaha menjadi pelayan yang baik; jika demikian maka
kita adalah sebuah mata air di padang gersang yang selalu siap melepaskan
dahaga bagi setiap musafir yang datang.
Apakah
kita termasuk seorang pemimpin agama, yang merendah jubah berwarna darah dari
keimanan yang mentah untuk tubuhnya dan sebuah mahkota emas untuk kepalanya,
sementara ia hidup dalam pengaruh setan yang memuntahkan kebenciannya terhadap
setan? Jika demikian kita adalah pembuat onar, tidak peduli apakah ia puasa
sepanjang siang dan berdoa sepanjang malam. Ataukah kita adalah orang-orang
beriman yang dapat menemukan adanya suatu dasar untuk kemajuan seluruh
umat dalam sifat baik manusia, dan bahwa
di dalam diri manusia terdapat tangga kesempurnaan yang menujuh Roh Kudus? Jika
kita dapat berlaku demikian, maka kita akan seperti bunga bakung di taman
kebenaran yang abadi harumnya tersimpan baik dihirup manusia atau tersapu oleh
angin lalu.
Apakah
kita termasuk para penyair yang selalu disibukan oleh kegaduhan tanpa makna?
Jika demikian kita adalah para penipu yang membuat kami tertawa padahal mereka
sedang menangis dan membuat kami menangis padahal mereka sedang tertawa.
Ataukah kita adalah jiw-jiwa yang diberkati tempat tangan-tangan Tuhan menaruh
biola surgawi dan membawa umatnya dekat dengan kehidupan dan keindahan hidup.
Jika demikian kita adalah obor yang menerangi jalan, kerinduan yang indah dalam
hati dan wahyu ilahi yang menghampiri mimpi-mimpi.
Pastikanlah
siapa sebenarnya kita dan termasuk golongan manakah kita berada? Hampir semua
umat beragama dengan penuh antusias menyatakan pengakuan bahwa Allah adalah
pemilik kehidupan. Demikian pula umat Kristen mengaku Allah di dalam Kristus
adalah Allah yang menguasai dan memiliki seluruh kehidupan ini. Namun dalam
praktek hidup, pengakuan tersebut tidak diberlakukan secara konsisten dalam
sikap etis-moral kepada sesama manusia. Sesama sering dijadikan korban.
Ungkapan “homo homini lupus” (manusia menjadi serigala bagi sesamanya) yang
dinyatakan oleh Thomas Hobbes menyelimuti kehidupan kita sehari-hari. Homo homini
lupus dapat berbentuk riba yang tinggi, merebut secara licik milik sesama,
perdagangan manusia, gaji yang di bawah standard atau kelayakan hidup, jam
kerja yang melampaui batas kemampuan, dan sebagainya. Secara tegas, Allah
berpihak kepada korban dan melawan setiap penindas sesamanya. Semoga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar